Jumat, 19 Juli 2013

Nemu Duit

Nemu Duitnya Sendiri

Peristiwa ini terjadi tahun 1985. Waktu itu ada acara selamatan di rumah tetangga. Acaranya diadakan setelah ba'da Isya’. saya dan keponakanku perempuan yang sedikit tomboy namun tetap terlihat cantik (waktu itu dia baru lulus sekolah) sejak pagi sudah ada disitu. Saya karena kerja membantu orangtua, jadi kerumah tetangga setelah pulang kerja, mandi dan ganti pakaian berangkat menuju tetangga. Kebetulan jarak dari rumah ke rumah tetangga tidak begitu jauh. Acaranya hanya baca do'a bersama kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Selesai acara Bude (panggilan ke beliau) yang punya acara minta supaya pulangnya belakangan saja karena masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan setelah usai acara selamatan. Dan akhirnya pulangnya belakangan ditemani keponakanku dengan membawa tambahan berkat dari acara selamatan.

Sampai dirumah klik nyetel televisi (tv) acaranya nggak menarik. Waktu itu chanel tv cuma satu yaitu TVRI, program tv swata sudah ada namun harus menggunakan alat tambahan (receiver) jadi karena acara nggak suka terpaksa di matikan. Iseng karena belum mengantuk, aku buka-buka laci meja yang berada di kamar tidur sebelah yang tidak ditempati. Aku mengeluarkan kertas-kertas yang ada di laci, kemudian menemukan sebuah dompet yang masih baru. Dompet siapa ini pikirku. Perasaan aku tidak pernah beli dompet dalam beberapa bulan belakangan ini. Aku coba mengingat ingat. Dari bentuk dan warnanya sepertinya memang akau pernah beli dompet seperti itu. Tapi kapan dan dimana aku beli?. Belum juga bisa menebak lalu aku buka dalamnya. Betapa kagetnya aku, didalam dompet terdapat banyak uang kertas baru pecahan Rp.500,-. Aku tambah terheran-heran. Asal dompet belum tahu sekarang ditambah soal uang. Aku hitung uangnya berjumlah 30 lembar baru semua. Jadi nominalnya Rp.15.000,- . Kebetulan waktu itu istilahnya lagi tanggal tua, aku lagi “bokek”. Uang didompet yang ada dicelanaku hanya cukup untuk beli bensin (motor cb 100) dan makan siang sampai tanggal bayaran. Aku girang bukan main lagi bokek nemu uang Rp.15.000,- perasaan seperti menang lotre. Aku berpikir , dari mana uang itu?

Aku kemudian tidur-tiduran sambil mengingat ingat akan dompet dan uang tersebut. Lama-lama mulai terkuak rahasia dompet itu. Dari bentuk, warna serta modelnya aku mulai ingat. Dompet tersebut aku beli waktu bekerja dan ditugaskan ke kota Semarang. Itu terjadi tahun 1979 ketika aku masih bujangan. Dompet itu tidak langsung aku pakai karena dompet yang aku pakai saat itu masih bagus. Jadi dompet baru itu aku simpan saja. Aku masukkan dalam koper tempat pakaianku. Sekarang sudah jelas asal muasal dompet tersebut. Namun kenapa ada uang didalam dompet, aku masih belum bisa mengingat. Tapi sudahlah yang penting aku punya uang cukup banyak Rp.15.000,- . Banyak untuk ukuran orang yang nggak pernah punya uang banyak. 

Kembali aku buka dompet tadi, namun aku agak terkejut. Setelah aku perhatikan gambarnya ternyata uang itu adalah uang yang sudah “tidak berlaku”. Uang tersebut sudah ditarik dari peredaran. Betapa lemes dan kecewanya aku. Sedang bokek dapat uang banyak tapi kok sudah nggak laku, sama aja bohong kalau istilah sekarang. Aku akhirnya kembali benar-benar bokek. Aku tidur-tiduran lagi (mau tidur beneran juga nggak bisa) sambil memikirkan nasib beruntung tapi sial. Aku mengingat ingat lagi sambil mikir-mikir. 

Lama-lama ada “sinar terang” dalam masalah uang ini. Aku ingat akan peraturan dari Bank Indonesia tentang penarikan uang itu secara bertahap. Aku baca peraturan itu Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa jika uang ditarik dari peredaran ada tahapannya, tapi persisnya aku tidak ingat. Yang jelas bila uang ditarik dari peredaran maka selama sekian bulan masih bisa ditukar di semua bank. Setelah itu hanya bisa ditukarkan di bank pemerintah selama periode tertentu. Terakhir uang tersebut masih bisa ditukar tetapi hanya di Bank Indonesia dan waktunya cukup lama yakni tahunan. Kembali timbul rasa senangku. Beberapa saat kemudian aku tertidur.

Sojokerto Leksono Wonosobo, 1985



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar